Bismillah
Mumpung masih tanggal 1 Ramadhan , kali ini aku akan menulis sesuatu yang barangkali berbeda dengan tema-tema goresan pena di sini. Yakni soal niat. Tentu anda yang yang shalat tarawih malam ini baik yang sendirian atau yang berjamaah sudah melaksanakan niat puasa untuk esok hari.
Ada cerita. Suatu saat , Nabi berpesan kepada Abu Dzar , yang artinya kurang lebih begini: “perbaruhilah perahumu , alasannya yaitu sesungguhnya lautan itu dalam”. Hadist itu memang tidak lebih terkenal dari hadis yang diriwayatkan Umar bin khatab dan hampir semua orangg Islam hafal: “Wahai sekalian insan , segala amal tergantung pada niatnya.”
Tetapi pesan Rasul untuk Abu Dzar tersebut sebenarnya juga sangat dalam. Meski , memang tidak semua orang bisa menangkap pesannya secara harfiah. Kedalaman hadist itu juga bisa saja mengakibatkan multi tafsir.
Perahu yang dimaksud oleh Nabi Shalalalluhu ‘Alaihi Wassalam bisa diibaratkan sebagai sebuah alat yang akan digunakan untuk membawa insan mengarungi lautan (kehidupan). Jika perahu kita rusak maka kita pasti akan karam sebelum hingga pada tujuan. Di manakah sesungguhnya tujuan kita? Kematian? Ya , tepatnya , alam setelah maut (akhirat).
Perahu yang kuat yaitu syarat untuk menempuh perjalanan yang penuh dengan rintangan. Anda tahu bagaimana laut itu begitu mengancam siapa saja yang mengarunginya. Begitu pula dunia , sangat penuh degan tipu daya. Siapa yang tidak punya pegangan yang kokoh (perahu yang kuat) maka ia akan goyah dan karam dalam muslihat yang fana.
Perahu juga bisa diibaratkan bekal yang mesti disiapkan dalam kita menjalani segala perbuatan. Perahu yang kuat yaitu niat yang ikhlas. Niat tulus tidak akan tergoyahkan oleh hal-hal yang menarik hati di depan kita. Bila ulama berdakwah dengan tulus maka ia tidak akan terpengaruh apakah akan mendapat kebanggaan atau cacian. Jika pelajar tulus dalam mencari ilmu maka ia tidak akan terpengaruh oleh apakah ia mendapat nilai yang baik atau buruk alasannya yaitu yang terpenting ia sudah menjalani proses belajar sebaik yang ia mampu.
Ibadah puasa , juga shalat dan segala ibadah lainnya mesti didasari oleh bekal niat yang tulus , semata-mata mencari ridho Allah. Tak hanya ibadah maghdhoh tetapi juga ibadah-ibadah ghairu mahdhoh , juga kekerabatan muamalah. Ikhlas itu tempatnya di hati sehingga kita juga tidak bisa mengecap jidad orang bahwa orang tersebut tidak berbuat tulus dalam amalnya. Tak ada yang tahu seseorang tulus atau tidak. Hanya Tuhan saja. Dan sepandai-pandai kita menyembunyikan kesombongan , atau keburukan niscaya Tuhan akan tahu.
Sungguh , tulus bukan sesuatu ilmu yang mudah untuk dikuasai. Jika sekadar teori mungkin gampang , tetapi pada prakteknya ini sebuah ilmu yang besar dan berat. Namun begitu , kita punya Tuhan yang maha menolong siapa saja di antara hambanya yang bersungguh-sungguh dan ingin mendapat pertolongannya.
Semoga puasa kita tidak semata-mata hanya menerima lapar dan haus. Capek-capek puasa eh tidak dapat apa-apa. Kan sayang.
Mumpung masih tanggal 1 Ramadhan , kali ini aku akan menulis sesuatu yang barangkali berbeda dengan tema-tema goresan pena di sini. Yakni soal niat. Tentu anda yang yang shalat tarawih malam ini baik yang sendirian atau yang berjamaah sudah melaksanakan niat puasa untuk esok hari.
Ada cerita. Suatu saat , Nabi berpesan kepada Abu Dzar , yang artinya kurang lebih begini: “perbaruhilah perahumu , alasannya yaitu sesungguhnya lautan itu dalam”. Hadist itu memang tidak lebih terkenal dari hadis yang diriwayatkan Umar bin khatab dan hampir semua orangg Islam hafal: “Wahai sekalian insan , segala amal tergantung pada niatnya.”
Tetapi pesan Rasul untuk Abu Dzar tersebut sebenarnya juga sangat dalam. Meski , memang tidak semua orang bisa menangkap pesannya secara harfiah. Kedalaman hadist itu juga bisa saja mengakibatkan multi tafsir.
Perahu yang dimaksud oleh Nabi Shalalalluhu ‘Alaihi Wassalam bisa diibaratkan sebagai sebuah alat yang akan digunakan untuk membawa insan mengarungi lautan (kehidupan). Jika perahu kita rusak maka kita pasti akan karam sebelum hingga pada tujuan. Di manakah sesungguhnya tujuan kita? Kematian? Ya , tepatnya , alam setelah maut (akhirat).
Perahu yang kuat yaitu syarat untuk menempuh perjalanan yang penuh dengan rintangan. Anda tahu bagaimana laut itu begitu mengancam siapa saja yang mengarunginya. Begitu pula dunia , sangat penuh degan tipu daya. Siapa yang tidak punya pegangan yang kokoh (perahu yang kuat) maka ia akan goyah dan karam dalam muslihat yang fana.
Perahu juga bisa diibaratkan bekal yang mesti disiapkan dalam kita menjalani segala perbuatan. Perahu yang kuat yaitu niat yang ikhlas. Niat tulus tidak akan tergoyahkan oleh hal-hal yang menarik hati di depan kita. Bila ulama berdakwah dengan tulus maka ia tidak akan terpengaruh apakah akan mendapat kebanggaan atau cacian. Jika pelajar tulus dalam mencari ilmu maka ia tidak akan terpengaruh oleh apakah ia mendapat nilai yang baik atau buruk alasannya yaitu yang terpenting ia sudah menjalani proses belajar sebaik yang ia mampu.
Ibadah puasa , juga shalat dan segala ibadah lainnya mesti didasari oleh bekal niat yang tulus , semata-mata mencari ridho Allah. Tak hanya ibadah maghdhoh tetapi juga ibadah-ibadah ghairu mahdhoh , juga kekerabatan muamalah. Ikhlas itu tempatnya di hati sehingga kita juga tidak bisa mengecap jidad orang bahwa orang tersebut tidak berbuat tulus dalam amalnya. Tak ada yang tahu seseorang tulus atau tidak. Hanya Tuhan saja. Dan sepandai-pandai kita menyembunyikan kesombongan , atau keburukan niscaya Tuhan akan tahu.
Sungguh , tulus bukan sesuatu ilmu yang mudah untuk dikuasai. Jika sekadar teori mungkin gampang , tetapi pada prakteknya ini sebuah ilmu yang besar dan berat. Namun begitu , kita punya Tuhan yang maha menolong siapa saja di antara hambanya yang bersungguh-sungguh dan ingin mendapat pertolongannya.
Semoga puasa kita tidak semata-mata hanya menerima lapar dan haus. Capek-capek puasa eh tidak dapat apa-apa. Kan sayang.
Lillahi ta'ala
Lillahi ta'ala
Lillahi ta'ala
Apapun kata orang perihal kita , kalau kita sudah meluruskan niat lillahi Ta'ala dan sudah menunjukkan yang terbaik , maka kita tetap akan istiqomah.

0 komentar Blogger 0 Facebook
Posting Komentar